Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memastikan penundaan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) menyusul kondisi kabut asap yang masih berdampak terhadap aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah. Kebijakan ini memberikan kesempatan lebih panjang bagi siswa untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti evaluasi akademik.
Sesuai kalender akademik seharusnya pada Desember 2026 mendatang sudah digelar TKA untuk sekolah SMA, SMK dan SKH sederajat di Kalteng. Karena dampak kabut asap yang menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) maka TKA akan diundur diwaktu yang akan ditentukan nantinya.
Kepala Disdik Kalteng M Reza Prabowo mengatakan usulan Gubernur Kalteng terkait penundaan TKA telah mendapat apresiasi dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Dukungan tersebut menjadi ruang bagi pemerintah daerah dan sekolah untuk menyesuaikan persiapan ujian dengan kondisi di lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah, kita mendapatkan apresiasi dari Pak Menteri Pendidikan. Apa yang diusulkan oleh Pak Gubernur terkait TKA bisa ditunda," ujar Reza di Palangka Raya, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, penundaan tersebut bukan sekadar penyesuaian jadwal akibat kabut asap, tetapi juga memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk meningkatkan kesiapan akademik. Tambahan waktu yang tersedia diharapkan dapat dimanfaatkan siswa dan sekolah untuk memaksimalkan persiapan.
"Di sisi lain, Disdik Kalteng juga terus mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah-sekolah. Pemantauan dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara, tingkat kepekatan kabut asap, serta kondisi masing-masing wilayah," katanya.
Reza menegaskan pelaksanaan PTM harus mempertimbangkan faktor kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah. Sebab, paparan kabut asap berpotensi mengganggu kesehatan peserta didik maupun tenaga pendidik jika aktivitas belajar dilakukan dalam kondisi udara yang tidak memungkinkan.
"Karena itu, sekolah diharapkan dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan situasi di wilayah masing-masing. Langkah tersebut dilakukan agar hak siswa untuk memperoleh layanan pendidikan tetap terpenuhi tanpa mengesampingkan aspek kesehatan dan keselamatan," ujarnya.
Seorang pelajar SMA 3 Pangkalan Bun Raffi Dzakwan merasa senang jika TKA ditunda. Sebab selama PJJ kurang lebih dua bulan, pembelajaran kurang efektif karena via online.
"Bagus seh kalau ditunda, kalau dipaksakan digelar pada Desember 2026 justru pelajar dipastikan kurang siap dan bisa-bisa nilainya kurang maksimal. Kualitas pembelajaran PJJ dan PTM berbeda. Jadi kita berharap musibah ini cepat berlalu dan sekolah kembali normal seperti dulu," kata Raffi.




























































