Persib Bandung seperti memiliki dua wajah permainan berbeda pada musim 2026/2027. Ketika tampil di kompetisi Asia, Persib terlihat lebih tenang, disiplin, dan efektif. Namun, ketika kembali berkompetisi di Super League, konsistensi permainan mereka belum sepenuhnya terjaga.
Perbedaan tersebut cukup menarik. Sebab, Persib yang kini ditangani pelatih Igor Tolic sebenarnya memiliki materi pemain yang relatif sama di kedua kompetisi. Sejumlah pemain berpengalaman seperti Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Ragnar Oratmangoen menjadi bagian penting dari kekuatan Maung Bandung.
Di level Asia, Persib bahkan memperlihatkan mentalitas yang semakin matang. Mereka tidak hanya mampu mengimbangi lawan-lawan dari negara lain, tetapi juga memperlihatkan kemampuan untuk mengatasi tekanan dan membalikkan keadaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teranyar, Persib sukses menaklukkan Melbourne Victory dengan skor 2-1 dalam lanjutan Grup E AFC Champions League Two (ACL Two) di Melbourne Rectangular Stadium atau AAMI Park, Australia, Rabu (4/11/2026).
Kemenangan itu tidak didapat dengan mudah. Persib sempat tertinggal pada menit ke-71. Namun, memasuki lima menit terakhir, Maung Bandung menunjukkan mentalitasnya. Luka Menalo menyamakan kedudukan pada menit ke-85, sebelum Balsa Sekulic mencetak gol kemenangan pada menit terakhir.
Hasil tersebut sekaligus memastikan Persib menyapu bersih empat pertandingan Grup E ACL Two. Sebelumnya, Persib mengalahkan FC Seoul 1-0, The Cong-Viettel 1-0, dan Melbourne Victory 2-0.
Keperkasaan Persib di kompetisi Asia juga terlihat dalam ajang ASEAN Club Championship Shopee Cup. Ketika menghadapi Port FC di Thailand, Kamis (8/10/2026), Persib berhasil menang 3-1 meski lebih dahulu tertinggal.
Port FC sempat unggul melalui penalti Jude Soonsup-Bell pada menit ke-66. Namun, Mariano Peralta, Berguinho, dan Luka Menalo masing-masing mencetak gol pada menit ke-86, 92, dan 96 untuk memastikan kemenangan Persib.
Dengan demikian, dari lima pertandingan di dua kompetisi Asia tersebut, Persib selalu keluar sebagai pemenang. Mereka mencetak sembilan gol dan hanya kebobolan dua kali.
Catatan ini memperlihatkan betapa efektifnya permainan tim asuhan Igor Tolic ketika menghadapi persaingan di level internasional.
Kontrasnya penampilan Persib semakin terlihat ketika dibandingkan dengan hasil mereka di Super League 2026/2027. Hingga pekan kedelapan, Persib mencatatkan lima kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan. Maung Bandung mengoleksi 16 poin dan menempati posisi keempat klasemen sementara.
Dua kekalahan Persib terjadi ketika menghadapi Persija Jakarta dengan skor 1-2 dan Madura United 0-1. Sementara itu, satu hasil imbang didapat ketika menjamu Dewa United dengan skor 2-2.
Dari delapan pertandingan tersebut, Persib mengemas 15 gol dan kebobolan delapan kali. Secara hasil, catatan Persib di kompetisi domestik sebenarnya tetap kompetitif. Namun, jika dibandingkan dengan kiprah mereka di Asia, terlihat bahwa konsistensi dan efektivitas permainan masih lebih menonjol ketika menghadapi klub-klub dari luar Indonesia.
Lantas, apa yang membuat Persib bisa tampil begitu berbeda?
Kultur Sepak Bola Asia Lebih Cocok dengan Pemain Persib
Pengamat sepak bola, Riphan Pradipta, menilai salah satu faktor yang membuat Persib tampil lebih meyakinkan di Asia adalah kematangan mental para pemain setelah menjalani kompetisi antarklub Asia dalam beberapa musim terakhir.
Menurutnya, keberhasilan Persib membalikkan keadaan ketika tertinggal dari Melbourne Victory bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Hal tersebut merupakan buah dari proses adaptasi dan pengalaman menghadapi pertandingan internasional.
"Ini satu hasil dan buah dari konsistensi Persib selama ini bermain di Asia dari tiga musim yang lalu ya. Bahwa sekarang Persib ketika ketinggalan 0-1 pun tidak terlalu panik," kata Riphan, Jumat (6/11/2026).
Ia menilai, pada masa lalu, tim-tim Indonesia kerap memiliki beban psikologis ketika berhadapan dengan klub-klub luar negeri, terutama tim yang berasal dari negara dengan tradisi sepak bola lebih kuat.
"Kalau dulu-dulu kan bukan hanya Persib ya, bahkan tim Indonesia kalau melawan tim dalam tanda kutip tim-tim bule udah ini dulu, udah takut duluan. Kemudian apalagi kalau ketinggalan," ujarnya.
Namun, kondisi tersebut perlahan berubah. Persib saat ini dinilai sudah memiliki kepercayaan diri dan kesiapan mental untuk menghadapi pertandingan di level Asia.
Selain mentalitas, Riphan juga memberikan apresiasi terhadap kemampuan Igor Tolic dalam membaca pertandingan. Ia melihat keputusan pelatih Persib memasukkan sejumlah pemain dengan karakter cepat atau pelari pada kisaran menit ke-70 menjadi bagian dari strategi yang tepat.
Menurutnya, pergantian tersebut kemungkinan memang sudah disiapkan sebagai bagian dari pendekatan taktik, bukan semata respons karena Persib tertinggal.
"Igor Tolic membawa timnya tampil dengan taktik yang sangat baik, straight to the tactic bahwa di menit 70-an mereka memasukkan para pelari dan nampaknya itu jikapun tidak ada ketinggalan gol pun tetap akan seperti itu taktiknya," tuturnya.
"Dan lagi-lagi Igor Tolic berhasil membaca alur permainan dan mengantongi tiga poin penting dari Australia dan memastikan bahwa tim ini lolos ke babak kualifikasi. Jadi kemenangan ini cukup penting untuk statement bahwa Persib sangat siap bermain di Asia, itu sih," lanjut Riphan.
Faktor lainnya yang menjadi sorotan adalah kecocokan kultur permainan di kompetisi Asia dengan karakter sejumlah pemain Persib yang memiliki pengalaman bermain di Eropa.
Riphan menyebut Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Ragnar Oratmangoen dan beberapa pemain lainnya sebagai pemain yang mendapatkan keuntungan dari karakter pertandingan yang lebih menitikberatkan pendekatan taktikal.
Menurutnya, kondisi lapangan, cuaca, hingga tempo pertandingan di sejumlah kompetisi Asia membuat para pemain tersebut bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
"Beberapa pemain Persib adalah pemain-pemain yang lama di Eropa. Kultur sepak bola di Asia ini secara lapangan, secara udara seperti kemarin di Australia, secara perangkat pertandingan yaitu wasit, itu sangat cocok dengan kultur terhadap orang-orang kayak Thom Haye, Eliano, Ragnar Oratmangoen," katanya.
Ia menilai kondisi pertandingan di Indonesia terkadang menghadirkan tantangan berbeda. Cuaca panas, kualitas lapangan yang tidak selalu merata, hingga kepemimpinan perangkat pertandingan menjadi faktor yang menurutnya turut memengaruhi kenyamanan bermain.
"Jadi main adem, lapangan oke, tensi pertandingan, taktikal. Kalau di Indonesia kan satu cuaca cukup panas, kemudian rumput kadang beberapa tidak terlalu baik, kemudian perangkat pertandingan juga kadang memimpin tidak sebaik itu," ujarnya.
Riphan menambahkan, karakter permainan di kompetisi domestik juga cenderung menghadirkan intensitas duel fisik dan kecepatan transisi yang tinggi. Situasi tersebut dinilai tidak selalu ideal bagi pemain-pemain Persib yang terbiasa dengan permainan berbasis penguasaan bola dan pendekatan taktik.
"Jadi si kultur Asia itu sebetulnya mengakomodir terhadap pemain-pemain Persib yang saat ini, yang notabene (pernah main) di Eropa. Jadi mereka bermain sangat nyaman, temponya juga tidak terlalu cepat," katanya.
"Kalau di Indonesia kan temponya antara menyerang dan bertahan aja ya, dan dengan tempo yang cukup cepat gitu, lari, lari, lari. Itu untuk pemain Persib sebetulnya tidak terlalu cocok," lanjutnya.
Lawan di Indonesia Sudah Mengenal Permainan Persib
Selain faktor kultur pertandingan, Riphan melihat ada perbedaan pengetahuan lawan terhadap kekuatan Persib. Di kompetisi domestik, Persib merupakan salah satu tim yang selalu mendapat perhatian khusus di mana lawan sudah memiliki gambaran mengenai pola permainan, karakter pemain, hingga cara menghentikan serangan Maung Bandung.
Nama Mariano Peralta dan Thom Haye menjadi contoh pemain yang menurutnya sudah dipelajari oleh klub-klub pesaing di Super League.
"Dan kalau di Indonesia, lawan-lawan Persib itu sudah sangat mempelajari tentang Persib menurutku. Jadi mereka sudah tahu bagaimana cara Peralta bermain, bagaimana cara Thom bermain dan sudah punya anti-taktiknya," ucap Riphan.
Sebaliknya, ketika bermain di Asia, Persib menghadapi lawan-lawan yang belum sepenuhnya mengenal karakter permainan mereka.
Situasi tersebut membuat Maung Bandung bisa mendapatkan keuntungan dari sisi kejutan. Bahkan, Riphan melihat adanya kecenderungan sebagian lawan memandang Persib sebagai tim yang tidak terlalu sulit untuk dikalahkan.
"Kalau di Asia kan tim-tim Asia tidak terlalu kenal dan punya kecenderungan menganggap enteng Persib. Jadi ya underdog mentality ini yang dipunyai Persib di Asia. Jadi mereka merasa Persib itu mudah dikalahkan, ternyata secara kekuatan gak semudah itu juga," ujarnya.
Baca juga: Jadwal Lengkap Java United Vs Persib Bandung |
Ia pun menilai perbedaan paling mendasar terletak pada pendekatan permainan. Menurutnya, pertandingan di Asia lebih banyak memberikan ruang bagi adu strategi dan kemampuan membongkar pertahanan lawan melalui organisasi permainan. Sementara itu, di Indonesia, duel fisik, kecepatan berlari, serta pertarungan satu lawan satu masih cukup dominan.
"Kalau di Indonesia kecenderungannya duel-duel fisik, duel-duel lari, duel-duel satu lawan satu. Kalau di Asia tuh cenderungnya membongkarnya pakai taktikal dan itu adalah hal yang sangat disukai oleh pemain-pemain Persib semodel Thom Haye, Eliano, Ragnar karena ya mereka dibesarkan di Eropa dengan kultur taktikal kayak gitu. Jadi sangat cocok untuk bermain di Asia," katanya.























































