PT Marege Rajawali Perkasa dikabarkan akan menghadirkan penerbangan baru di akhir tahun 2026. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan menyambut positif dan berharap rencana hadirnya layanan penerbangan mandiri itu bisa jadi solusi atas permasalahan transportasi udara di wilayah perbatasan tersebut.
Seperti diketahui, keterbatasan kuota penerbangan bersubsidi membuat warga di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), kerap mengantre dan kesulitan mendapatkan tiket pesawat.
Plt Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Nunukan, Beny Patisadia, mengakui antrean tiket cukup padat kerap terjadi di Kota Tarakan maupun Nunukan. Lonjakan penumpang biasanya memuncak menjelang libur sekolah, acara reuni warga Krayan, hingga momen Natal dan Tahun Baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sering terjadi masyarakat sulit mendapatkan tiket dan sering mengantri tiket, baik yang terjadi di Kota Tarakan maupun di Nunukan," ujar Beny saat dihubungi detikKalimantan, Minggu (1/11).
Beny menjelaskan, penerbangan di Nunukan selama ini dilayani oleh armada Susi Air melalui program Subsidi Ongkos Angkut (SOA) APBD Nunukan dengan frekuensi 4,5 kali per minggu. Selain itu, terdapat pula penerbangan subsidi APBN sebanyak 2 kali per minggu.
"Meski demikian, keterbatasan seat yang hanya berkapasitas 12 kursi per penerbangan membuat moda transportasi utama masyarakat perbatasan tersebut belum sepenuhnya mampu menampung lonjakan penumpang," sambungnya.
Oleh karena itu, hadirnya opsi penerbangan nonsubsidi yang diinisiasi pihak swasta dinilai sangat krusial untuk mengurai antrean panjang serta mempermudah mobilitas masyarakat umum, wisatawan, hingga aparatur pemerintahan.
"Jika ada penerbangan mandiri hadir, maka akan membantu dengan adanya pilihan masyarakat serta dapat mengurai antrean tiket dan memberikan akses kepada masyarakat secara luas," jelasnya.
Layanan penerbangan ini direncanakan akan menghubungkan dua rute pergi-pulang (PP) yang strategis di Kaltara. Adapun rute penerbangannya yakni dari Bandara Juwata Tarakan menuju Bandara Kolonel RA Bessing di Malinau.
Sementara rute kedua akan membuka konektivitas langsung dari Bandara Juwata Tarakan menuju Bandara Yuvai Semaring di Krayan/Long Bawan (PP). Kendati menyambut baik, Pemkab Nunukan memberikan catatan.
Menurut Beny, pihak maskapai perlu melakukan kajian mendalam terkait kondisi ekonomi warga setempat sebelum menentukan kisaran tarif penerbangan.
"Perlu juga maskapai melakukan kajian singkat terhadap kemampuan daya beli masyarakat dan aspek-aspek lain terhadap layanan transportasi tersebut," imbau Beny.
Sebelumnya diberitakan, warga perbatasan Kaltara tengah menantikan masuknya penerbangan baru dari PT Marege Rajawali Perkasa. Armada jenis Cessna Caravan dan Pilatus Porter direncanakan dapat melayani rute Tarakan-Malinau (PP) serta Tarakan-Long Bawan (PP) pada akhir tahun 2026 ini.




























































