Peneliti dari University of West Georgia dan Northwest Missouri State University mencoba melakukan sebuah penelitian untuk 'memanggil' hantu. Mereka menuturkan tingkat kejelasan pengalaman paranormal berkaitan dengan salah satu ukuran kreativitas.
Dikutip dari Science Alert, eksperimen berlangsung di ruang kecil bernama psychomanteum. Dalam ruangan ingin, peserta penelitian akan mencoba merasakan kehadiran seseorang spesial yang telah meninggal.
Dinding dan langit-langit ruangan ini dilapisi beludru hitam. Sebuah kursi sandar menghadap cermin yang dimiringkan agar peserta tidak melihat wajah sendiri, dengan lampu redup di bagian belakang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti total merekrut 30 orang sebagai peserta dan separuhnya memiliki kondisi sinestesia. Secara sederhana, sinestesia merupakan gangguan indra yang membuat pengidapnya dapat melihat suara dan mendengar warna.
Sementara itu, separuh peserta lain mengaku pernah melihat hantu, dan sebagian anggota pengidap sinestesia juga pernah mengalaminya.
Sebelum menatap cermin, setiap peserta menghabiskan 15 menit mengingat seseorang yang telah meninggal. Mereka memikirkan penampilan, suara, gerak-gerik, dan kepribadian orang itu, dan boleh membawa foto atau kenang-kenangan, atau menggambarkan sosoknya.
Selama 45 menit, mereka diminta mendengarkan pink noise yang stabil sehingga meredam suara dari luar ruangan.
Peserta diminta menekan tombol apabila merasakan kehadiran atau mengalami citra visual yang kuat. Setelah sesi, mereka menilai seberapa jelas dan nyata pengalaman itu terasa, serta seberapa besar ruang fisik yang seolah ditempatinya.
Dalam kuesioner setelah sesi tersebut, 24 dari 30 peserta melaporkan merasakan sebuah kehadiran 'hantu'.
"Seringkali, pengalaman ini sangat emosional, tapi dengan cara yang positif. Salah satu peserta merasakan rambutnya dibelai oleh orang tercintanya dan itu sangat bermakna serta berdampak kuat," ucap peneliti sekaligus psikolog Chritine Simmonds-Moore.
Sebagian peserta menggambarkannya sebagai kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal atau menyelesaikan urusan yang belum tuntas.
Peneliti awalnya memperkirakan orang dengan sinestesia akan melaporkan pengalaman lebih kuat. Namun, ternyata kedua kelompok tidak berbeda signifikan, baik dalam hal melaporkan kehadiran maupun dalam penilaian terhadap pengalamannya.
Pola berbeda muncul dari kuesioner fantasi. Peserta dengan skor lebih tinggi pada skala fantasi kreatif cenderung menggambarkan pengalaman yang lebih jelas dan nyata, sedangkan skala fantasi imajinatif yang terpisah tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kualitas tersebut.
"Kecenderungan fantasi yang kuat berkontribusi pada resep terciptanya hantu," ucap Simmonds-Moore.
Penelitian ini juga mengeksplorasi cara lain seseorang yang sebenarnya tidak hadir dapat terasa seolah-olah berada di ruang yang sama.
Peneliti memantau medan elektromagnetik dan perubahan detak jantung peserta. Mereka juga menggunakan kamera inframerah untuk merekam area cermin serta perangkat penghasil angka acak untuk melihat kemungkinan hubungan antara pengalaman peserta dan hasil perangkat tersebut.
Hasil rekaman kamera inframerah menunjukkan adanya bintik-bintik kecil di sekitar cermin, baik saat peserta berada di ruangan maupun tidak. Namun, frekuensi kemunculannya tidak berbeda secara signifikan.
Menariknya, sesi yang memperlihatkan bintik-bintik tersebut justru lebih sering disertai laporan pengalaman tidak biasa dari peserta. Meski demikian, temuan ini belum membuktikan adanya hubungan sebab-akibat.
Peneliti kemudian mencoba mencari tahu asal bintik-bintik tersebut dengan meniupkan debu ke kamera, menggerakkan lampu, dan mengubah posisi cermin. Hasilnya, perubahan sudut atau gerakan cermin memang dapat memunculkan bintik-bintik serupa, tetapi ukurannya lebih kecil dan lebih redup dibandingkan rekaman awal.
Karena itu, peneliti menduga bintik-bintik tersebut mungkin berasal dari debu, partikel di udara, atau pergerakan cermin. Namun, penyebab pastinya masih belum diketahui.
Penelitian dengan skala lebih besar dapat menyelidiki lebih jauh bagaimana ingatan dan lingkungan sekitar berkontribusi terhadap munculnya sensasi seolah-olah ada seseorang yang hadir.

























































