Usia ternyata tidak menghalangi seorang turis pria asal China untuk menjelajahi dunia. Pria lansia ini bahkan pergi ke Tibet dengan bantuan Artificial Intelligentce.
Tan (96), melakukan perjalanan seorang diri ke Tibet setelah ditolak oleh sejumlah agen perjalanan. Faktor usia adalah halangan terbesarnya untuk ikut dalam perjalanan.
Tak ingin mengubur impiannya, Tan justru memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu merencanakan petualangannya. Tan memulai perjalanan dari rumahnya di Provinsi Jiangsu pada September 2026, seperti dilaporkan oleh The China Academy, Sabtu (7/11/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memilih kereta api dengan tujuan Lhasa, ibu kota Daerah Otonom Tibet, yang menempuh jarak lebih dari 3.000 kilometer selama sekitar 43 jam. Tan akhirnya tiba di Tibet pada 12 Oktober.
Perjalanan tersebut sekaligus menjadi pencapaian istimewa karena berhasil memenuhi keinginannya mengunjungi seluruh wilayah administratif tingkat provinsi di Tiongkok.
Kisah Tan kemudian menarik perhatian publik setelah seorang wisatawan lain bertemu dengannya di sebuah restoran di Lhasa dan membagikan video pertemuan mereka di media sosial. Dalam video tersebut, sosok pria lanjut usia yang bepergian sendirian ke Tibet membuat banyak orang kagum.
Sebenarnya, Tan sempat berencana mengikuti perjalanan wisata berkelompok. Selain ditolak oleh agen perjalanan, keluarga dan teman-temannya juga melarangnya pergi karena khawatir ia mengalami penyakit ketinggian. Tibet memiliki wilayah dengan ketinggian ekstrem, sehingga penyakit ini sering terjadi pada wisatawan.
Ketertarikan Tan pada teknologi bermula pada tahun lalu, saat ia melihat putrinya menggunakan AI melalui ponsel. Ia kemudian mengunduh sebuah aplikasi dan mulai mencoba berbagai fitur, sebagaimana dilaporkan CCTV.
Sebelum berangkat, Tan bahkan sempat bertanya kepada AI apakah seseorang berusia 96 tahun dapat melakukan perjalanan ke Lhasa dengan aman. Namun, teknologi tersebut tidak memberikan jawaban yang benar-benar pasti. Meski demikian, Tan tetap melanjutkan persiapannya dan berangkat dengan rencana perjalanan yang telah disusunnya.
Selama berada di Tibet, ia mengunjungi sejumlah objek wisata, menikmati pelayaran malam di Sungai Lhasa, mengenakan pakaian tradisional Tibet, serta menjelajahi kota menggunakan bus.
Tan mengaku tidak mengalami gejala penyakit ketinggian selama kunjungannya. Dalam perjalanan menuju Tibet, ia juga mendapat bantuan dari seorang perempuan muda yang berada di kereta yang sama.
Setelah mengetahui usia Tan, perempuan tersebut bersedia menukar tiket tempat tidurnya di gerbong bawah dengan tiket Tan di gerbong atas. Tan sempat menawarkan untuk membayar selisih harga tiket, tetapi tawaran itu ditolak.
Bantuan juga datang dari petugas setempat. Setibanya di stasiun Lhasa, staf kereta menyediakan kursi roda dan mengantarnya hingga ke area penjemputan kendaraan daring. Pegawai hotel tempat Tan menginap pun secara berkala menanyakan rencana perjalanannya dan menawarkan bantuan jika diperlukan. Setelah menyelesaikan petualangannya, Tan kembali ke Wuxi dengan selamat pada 21 Oktober.
Kisahnya menuai banyak pujian di media sosial.
"Kisah ini mengingatkan kita bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk mengejar impian dan memulai petualangan baru. Salut untuk Bapak Tan atas keberanian dan tekadnya," tulis seorang warganet.
Warganet lainnya bahkan penasaran dengan rahasia kesehatannya.
"Akan sangat menarik untuk mengetahui apa yang ia lakukan sehingga bisa tetap sangat sehat di usia 96 tahun, dan bagaimana ia berhasil menempuh perjalanan ke Tibet tanpa mengalami dampak buruk dari ketinggian ekstrem," tulisnya.
Meski menginspirasi, perjalanan Tan juga memunculkan kekhawatiran mengenai keselamatan wisatawan lanjut usia. Tibet dikenal sebagai Atap Dunia karena ketinggian rata-rata wilayahnya mencapai lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut. Kondisi ini membuat wisatawan rentan mengalami penyakit ketinggian akibat tubuh belum mampu menyesuaikan diri dengan kadar oksigen yang lebih rendah.
Selain kondisi fisik, perjalanan ke Tibet juga membutuhkan persiapan administratif. Menurut situs perjalanan Tibet Discovery, wisatawan asing wajib memiliki Tibet Travel Permit atau Izin Perjalanan Tibet yang diterbitkan otoritas China. Izin tersebut harus diurus melalui agen perjalanan resmi berlisensi. Beberapa kawasan khusus, termasuk Base Camp Gunung Everest, juga memerlukan izin tambahan.
Wisatawan disarankan menghabiskan beberapa hari di Lhasa untuk melakukan aklimatisasi atau penyesuaian tubuh sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah yang lebih tinggi. Konsultasi medis sebelum keberangkatan juga dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki risiko kesehatan tertentu.
Untuk membantu menghadapi kondisi tersebut, wisatawan dapat memperoleh bantuan oksigen secara gratis jika diperlukan. Sejumlah kereta yang melayani rute menuju Tibet bahkan dilengkapi sistem penyediaan oksigen di dalam gerbong.
Perjalanan Tan menjadi pengingat bahwa usia tidak selalu menjadi penghalang untuk memiliki impian dan mencoba hal baru. Namun, keberanian saja tidak cukup. Perjalanan ke wilayah berketinggian ekstrem tetap membutuhkan persiapan matang, pemahaman terhadap risiko kesehatan, serta dukungan yang memadai.


























































