Kondisi udara Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, kembali memburuk pada Kamis (5/11/2026) pagi. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat peningkatan titik panas (hotspot) dalam 24 jam terakhir. Aktivitas warga kembali terganggu. Penerbangan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun juga mengalami keterlambatan.
Salah seorang warga Kecamatan Pasir Panjang bernama Yuni mengaku kondisi udara pagi itu berbeda dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Sebelumnya, langit mulai terlihat cerah dan udara terasa lebih bersih.
"Pagi ini asap kembali pekat. Padahal beberapa hari terakhir sudah bisa menghirup udara segar dan matahari juga terlihat," ungkap Yuni, Kamis (5/11/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara tiu, Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, menyebutkan kebakaran masih ditemukan di kawasan Tatas dan sepanjang Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama.
"Petugas gabungan pun terus melakukan upaya pemadaman untuk mencegah api meluas. Penanganan dilakukan di sejumlah lokasi yang terpantau masih mengalami kebakaran," kata Samuel.
Senada, Forecaster on Duty BMKG Kobar, Eko Yulianto Nugroho menyampaikan adanya peningkatan titik panas dalam pemantauan selama 24 jam terakhir. Di Kecamatan Kotawaringin Lama tercatat ada 16 titik, kemudian Kecamatan Kumai 10 titik, serta Kecamatan Arut Utara satu titik. Sementara Kecamatan Pangkalan Banteng dan Pangkalan Lada tidak tercatat memiliki hotspot.
"Berdasarkan data BMKG, tercatat sebanyak 69 titik panas di wilayah Kobar. Kecamatan Arut Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 42 titik," ujar Eko.
Dari keseluruhan titik tersebut, sebanyak 63 titik masuk kategori tingkat kepercayaan menengah, lima titik kategori tinggi, dan satu titik kategori rendah. Arut Selatan tercatat memiliki dua titik kategori tinggi dan 40 titik kategori menengah.
Sedangkan Kotawaringin Lama memiliki tiga titik kategori tinggi, 12 titik menengah, serta satu titik rendah. Data ini menunjukkan kedua kecamatan tersebut menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pemantauan dan penanganan karhutla.
"Tak hanya jumlah titik panas, kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian. Informasi yang disampaikan menunjukkan angka 295,4 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut perlu diwaspadai masyarakat, terutama kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan," ujarnya.
Pesawat Delay
Terbatasnya jarak pandang akibat kabut asap menjadi kendala bagi operasional penerbangan. Berdasarkan pemantauan hingga pukul 08.30 WIB, jarak pandang di kawasan bandara hanya mencapai sekitar 1.000 meter. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Iskandar Pangkalan Bun, Asri Alie, membenarkan adanya sejumlah penerbangan yang terdampak kondisi cuaca tersebut.
"Salah satu penerbangan yang mengalami keterlambatan yakni Batik Air dengan rute Jakarta (CGK)-Pangkalan Bun (PKN)-Jakarta (CGK). Gangguan serupa juga dialami NAM Air dengan rute Jakarta (CGK)-Pangkalan Bun (PKN)-Semarang (SRG). Selain itu, penerbangan NAM Air dari Semarang (SRG)-Pangkalan Bun (PKN)-Jakarta (CGK) turut mengalami delay," katanya, Kamis (5/11/2026).
Meski demikian, tidak semua jadwal penerbangan mengalami perubahan. Batik Air dengan rute Semarang (SRG)-Pangkalan Bun (PKN)-Semarang (SRG) masih beroperasi sesuai jadwal atau on schedule.
Pihak bandara terus melakukan pemantauan terhadap kondisi atmosfer di sekitar kawasan bandara guna menyesuaikan operasional penerbangan dengan situasi terkini. Calon penumpang yang akan bepergian dari maupun menuju Pangkalan Bun diminta aktif memantau informasi jadwal melalui maskapai masing-masing.
"Langkah ini penting untuk mengantisipasi perubahan waktu keberangkatan maupun kedatangan," pungkasnya.
Simak Video "Video: Hotspot Mulai Menurun, Sumbagsel Tetap Waspada Karhutla "
[Gambas:Video 20detik](des/des)




























































