Momen Pengiriman 2,4 Juta Genteng Ricuh, Sopir Truk Tolak Berangka Foto: Almadinah Putri Brilian/detikcom |
Pengiriman 2,4 juta genteng dari Majalengka, Jawa Barat, sempat diwarnai aksi protes para sopir truk. Mereka menolak berangkat karena sebagian belum menerima upah untuk mengangkut genteng-genteng tersebut ke sejumlah daerah tujuan.
Kejadian itu bermula ketika Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bertanya kepada para sopir apakah mereka sudah siap mengirimkan genteng ke lokasi yang telah ditentukan.
"Apakah para sopir sudah siap berangkat?" tanya Ara dalam acara Peluncuran 2,4 Juta Genteng di Sentra Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, Minggu (8/11/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, para sopir justru serentak menyilangkan kedua tangan sebagai tanda belum siap berangkat. Mereka mengaku belum menerima bayaran atas pekerjaan tersebut.
"Belum dibayar!" teriak para sopir.
Salah seorang sopir mengatakan besaran upah yang diterima berbeda-beda, bergantung pada jarak dan lokasi pengiriman. Untuk pembayaran per orang, nilainya berkisar Rp 200.000-Rp 300.000. Sementara itu, tarif borongan untuk satu truk mencapai sekitar Rp 2 juta-Rp 3 juta.
"Dari hari Jumat sudah di sini. (Belum dibayar?) Belum. Jadi jangan dulu diberangkatkan," ujarnya kepada wartawan.
Sopir lainnya mengatakan mereka seharusnya sudah menerima bayaran, kaos, serta makan sebelum truk diberangkatkan. Namun, hingga acara berlangsung, mereka mengaku belum mendapatkan upah.
Menyusul aksi protes tersebut, Bupati Majalengka Eman Suherman bersama jajarannya menemui para sopir. Mereka berdiskusi mengenai persoalan pembayaran, sekaligus mulai mendata sopir dan kernet yang belum menerima upah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan pihaknya belum mengetahui secara pasti duduk perkara persoalan tersebut. Ia menyebut perlu melakukan pengecekan dan berdiskusi terlebih dahulu.
"Ini kan sudah siap berangkat, ada beberapa dari koperasi yang koreksi harga atau apa gitu. Tapi saya mau cek. Ini kan yang koordinir koperasi, pembiayaannya udah di koperasi," katanya sembari berjalan menuju kerumunan para sopir.
Adapun mekanisme pembayaran sopir dan kernet dilakukan melalui koperasi. Namun, pihak koperasi baru dapat menyalurkan uang setelah surat jalan diterbitkan.
Bupati Majalengka Eman Suherman pun menjamin persoalan pembayaran kepada para sopir dan kernet akan diselesaikan.
"Saya sangat memahami suasana hati teman-teman sekalian. Tapi yang harus dipahami saya akan menyelesaikan semuanya," ujarnya.
Menteri PKP Maruarar Sirait yang menyaksikan langsung kejadian tersebut meminta sopir dan kernet yang belum menerima upah, termasuk yang baru dibayar sebagian, untuk tidak berangkat terlebih dahulu. Menurutnya, persoalan pembayaran harus diselesaikan sebelum pengiriman dilanjutkan.
"Yang sudah dibayar, jalan. Yang belum dibayar tinggal (tetap di lokasi). Yang masih kurang, tinggal juga," tegasnya.
Setelah itu, petugas mulai mendata sopir dan kernet yang belum menerima pembayaran. Pada pukul 17.09 WIB, satu per satu truk yang sopirnya telah menerima upah mulai meninggalkan Majalengka.
Sebagai informasi, genteng dari Sentra Jatiwangi, Majalengka, dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Rinciannya, sebanyak 500 truk menuju Jawa Barat, 60 truk ke Banten, 10 truk ke DKI Jakarta, dan 10 truk ke Jawa Timur. Beberapa daerah tujuan pengiriman di antaranya Karawang dan Sumedang.
Sebanyak 440 truk mengangkut genteng untuk program bedah rumah, sedangkan 56 truk lainnya diperuntukkan bagi pembangunan rumah subsidi. Setiap truk membawa sekitar 4.000-5.000 keping genteng.
Selain itu, distribusi genteng juga mencakup pemenuhan kebutuhan di Majalengka serta sejumlah wilayah sasaran program perumahan dan kerja sama dengan pengembang.
Genteng yang dikirimkan dipastikan telah mengantongi sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan demikian, produk tersebut diharapkan memiliki kualitas yang lebih terjamin, awet, dan kuat.
Pengiriman 2,4 juta genteng ini melibatkan 34 unit usaha genteng di Majalengka. Kegiatan produksi hingga distribusi turut menggerakkan banyak tenaga kerja, mulai dari pekerja UMKM, pegawai produksi, pengemudi truk, hingga tenaga pendukung logistik.
(abr/das)





























































