Gunung Triglav, puncak tertinggi di Slovenia, kini kehilangan lapisan es abadinya. Per Oktober 2026, gletser yang menjadi simbol nasional tersebut dinyatakan telah mencair sepenuhnya, menjadi bukti nyata laju perubahan iklim yang kian ekstrem di kawasan Pegunungan Alpen.
Proses hilangnya gletser ini telah terpantau selama beberapa dekade. Melansir detikTravel, catatan sejarah menunjukkan pada pertengahan 1800-an, luas es di Triglav mencapai 40 hektare. Namun, angka tersebut terus merosot menjadi 14 hektare pada pengukuran resmi pertama tahun 1946. Antara 1983 hingga 2003, luas permukaannya menyusut drastis hingga 93 persen, menyisakan kurang dari satu hektare es di sela bebatuan.
Dalam lima tahun terakhir, sisa-sisa es tersebut terus terfragmentasi. Dokumentasi visual pada Oktober 2026 mengonfirmasi bahwa tidak ada lagi lapisan es yang tersisa pada bagian utama gletser sebelum salju musim dingin turun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Institut Geografi Anton Melik, Matija Zorn, menekankan bahwa fenomena ini melampaui sekadar perubahan lanskap. Triglav memiliki kedekatan emosional dengan identitas warga Slovenia, sekaligus menjadi laboratorium alam bagi para ilmuwan.
"Setiap tahun saya tahu bahwa esnya akan semakin sedikit. Namun, setiap tahun saya terkejut melihat betapa banyak es yang hilang di sana," ujar Zorn, dikutip dari The Guardian, Jumat (30/10/2026).
Zorn, yang telah memantau kondisi ini sejak 2001, menceritakan pengalamannya saat mengambil sampel inti es untuk analisis geokimia pada 2002. Saat itu, ia mengebor hingga kedalaman 5 meter. Namun, hanya dalam setahun, lokasi tersebut sudah berubah menjadi hamparan batu.
"Pada 2002, kami mengambil sampel inti es untuk analisis geokimia. Kedalamannya sekitar 5 meter dan tahun berikutnya saya berdiri di tempat yang sama, tetapi bukan di atas es, melainkan di atas batu," tuturnya.
Kondisi serupa melanda seluruh wilayah Alpen. Di Swiss, para ahli melaporkan kehilangan seperlima volume es dalam lima tahun terakhir, dengan penurunan sebesar 5,5 persen sepanjang tahun 2026 saja. Gelombang panas ekstrem yang dipicu emisi karbon menjadi faktor utama percepatan ini. Musim panas 2026 bahkan tercatat sebagai yang terpanas dalam sejarah Eropa Barat, yang diperkirakan memicu sedikitnya 50.000 kematian.
Meski gletser utama Triglav telah sirna, sisa-sisa es masih ditemukan di gua-gua bawah tanah yang kini tersingkap. Sementara itu, gletser di Gunung Skuta juga terus menipis, meski diprediksi mampu bertahan sedikit lebih lama karena lokasinya yang lebih terlindung.
Ahli gletser sekaligus pemandu gunung, Miha Pavsek, menyayangkan lambatnya kesadaran masyarakat terhadap kecepatan perubahan lingkungan ini.
"Alam sedang berubah di depan mata kita," kata Pavsek. Ia menambahkan bahwa masyarakat belum menganggap serius situasi ini. "Bersamaan dengan mencairnya gletser, sebagian dari diri saya juga ikut menghilang," ungkapnya.
Pavsek mengingatkan bahwa krisis iklim telah menghancurkan kepastian akan sesuatu yang semula dianggap permanen.
"Ada hal-hal yang dahulu dianggap manusia akan bertahan selamanya seperti gletser. Tapi kenyataannya sekarang tidak," pungkasnya.
Musnahnya gletser Triglav menjadi sinyal kuat bahwa dampak pemanasan global bukan lagi prediksi masa depan, melainkan realitas yang telah mengubah wajah pegunungan Eropa secara permanen.
Artikel ini sudah tayang di detikTravel























































