Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah mulai membawa perbaikan kondisi jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya. Namun belum cukup untuk memulihkan seluruh aktivitas penerbangan yang sempat terganggu akibat kabut asap.
Pengelola bandara menegaskan keselamatan penumpang tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kelanjutan operasional penerbangan. Maskapai tidak bisa langsung kembali beroperasi hanya karena kondisi cuaca mulai membaik.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, mengatakan jarak pandang di bandara telah meningkat hingga lebih dari 1.000 meter setelah hujan turun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang benar, setelah turunnya hujan, kondisi jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut mulai menunjukkan perbaikan hingga mencapai lebih dari 1.000 meter. Namun, kondisi tersebut belum serta-merta menjadi dasar bahwa seluruh penerbangan dapat langsung dilaksanakan," ujar I Made, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, pemulihan penerbangan harus melalui serangkaian pemeriksaan dan koordinasi untuk memastikan seluruh persyaratan teknis serta standar keselamatan terpenuhi. Selain kondisi cuaca, kesiapan operasional masing-masing maskapai juga menjadi faktor penting.
Maskapai membutuhkan waktu untuk menyiapkan armada, menyesuaikan jadwal dan rotasi pesawat, memastikan kesiapan awak, hingga mengatur kembali pelayanan kepada penumpang. Gangguan penerbangan selama beberapa hari terakhir turut berdampak pada rencana operasional maskapai.
"Karena itu, penyusunan ulang rencana penerbangan atau flight plan diperlukan agar jadwal yang kembali dijalankan sesuai dengan kondisi dan kesiapan di lapangan," ujarnya.
I Made menjelaskan proses tersebut tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Setiap tahapan harus dipastikan berjalan sesuai prosedur agar pemulihan layanan tidak mengabaikan aspek keselamatan penerbangan.
Untuk memantau perkembangan situasi, pengelola Bandara Tjilik Riwut terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta AirNav Indonesia.
"Pemantauan dilakukan untuk memperoleh informasi cuaca dan mendukung pengambilan keputusan operasional," ujarnya.
Pihak bandara berharap kondisi penerbangan segera kembali normal seiring membaiknya cuaca di Palangka Raya dan sekitarnya. Meski demikian, pemulihan layanan tetap bergantung pada hasil pemantauan cuaca, pemenuhan persyaratan teknis, serta kesiapan seluruh pihak terkait.
"Harapan kami penerbangan dapat segera kembali normal. Perhatian utama kami adalah memastikan seluruh proses telah dipersiapkan dengan baik, aman, dan sesuai ketentuan," pungkasnya.
Dengan kondisi tersebut, calon penumpang diimbau untuk terus memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara, mengingat jadwal penerbangan masih dapat menyesuaikan dengan perkembangan situasi.




























































