Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat kini mengkhawatirkan akibat volume sampah yang telah melebihi kapasitas maksimal.
Daya tampung TPA yang melayani wilayah Bandung Raya tersebut diprediksi hanya sanggup bertahan sampai bulan November 2026 ini.
Berikut 5 fakta terbaru TPA Sarimukti:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah DLH Jabar
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat kini menyiapkan sejumlah langkah darurat untuk memperpanjang usia operasional TPA Sarimukti. Namun, upaya tersebut lebih banyak berupa rekayasa teknis dengan tambahan daya tampung yang terbatas.
Kepala DLH Jawa Barat Ai Saadiyah Dwidaningsih membenarkan kondisi Sarimukti yang sudah penuh. Saat ini, pihaknya tengah melakukan beberapa rekayasa teknis karena belum tersedia lokasi alternatif untuk menampung sampah dari Bandung Raya.
"Iya jadi memang betul, sampai saat ini pun kami sedang melakukan beberapa rekayasa teknis di Sarimukti. Karena memang betul-betul sudah full ya, tetapi karena kita belum memiliki alternatif yang lain, jadi sesuai dengan arahan pimpinan, kami melakukan beberapa rekayasa," kata Ai, Kamis (5/11).
Tambah Lapisan Baru
Salah satu langkah yang ditempuh yakni menambah lapisan atau layer di area Zona 5 TPA Sarimukti. Penambahan tersebut dilakukan setelah melalui kajian dan pendampingan tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Menurut Ai, hasil kajian menunjukkan penambahan lapisan masih memungkinkan. Meski begitu, langkah tersebut tidak akan memberikan tambahan kapasitas dalam waktu lama.
"Pertama peningkatan, penambahan layer di area Zona 5. Tapi ini juga kami tidak serta-merta, karena kami juga didampingi oleh tim dari ITB. Dan itu menyatakan masih memungkinkan untuk penambahan layer. Tapi itu pun tidak berlangsung lama, itu paling hanya beberapa minggu itu akan full," ujarnya.
Aktifkan Zona 4
Selain Zona 5, DLH Jabar juga mengkaji kemungkinan mengaktifkan kembali Zona 4. Namun, opsi tersebut memiliki risiko teknis karena konstruksi di bagian hilir yang mengarah ke kolam stabilisasi belum dilakukan.
Ai menjelaskan, penambahan beban sampah di area tersebut berpotensi menyebabkan pergeseran. Karena itu, DLH Jabar masih menghitung volume sampah yang memungkinkan untuk ditampung apabila Zona 4 kembali dioperasikan.
"Kami juga mencoba untuk melakukan reaktivasi di Zona 4. Memang ini berisiko ya, tapi karena sebenarnya Zona 4 itu di bagian hilirnya yang menuju kolam stabilisasi itu belum dilakukan konstruksi, jadi kalau ada penambahan beban, ini nanti akan berpotensi untuk menggeser," jelasnya.
"Maka kami juga berhitung kira-kira volume berapa yang bisa kita lakukan di pembukaan atau reaktivasi Zona 4," sambung Ai.
Langkah-langkah Pemprov Jabar
Dua langkah tersebut menjadi upaya jangka pendek untuk menghadapi kondisi Sarimukti. Sementara untuk jangka menengah, DLH Jabar menyiapkan rencana perluasan pemanfaatan area Zona 5 yang ditargetkan mulai dilakukan tahun 2027.
Ai menyebut masih terdapat sejumlah bagian atau zona yang belum dimanfaatkan. DLH Jabar telah mengusulkan kebutuhan anggarannya agar area tersebut bisa dioptimalkan. Dia memastikan rencana tersebut tidak disertai penambahan luas lahan baru, termasuk dengan membuka lahan milik Perhutani.
"Kita berupaya untuk tidak menambah luasan ya. Jadi kita mengoptimalkan yang ada saja. Jadi kayak misalnya nanti Zona 5 dan Zona 4 pun kalau misalnya memungkinkan untuk direaktivasi secara masif, ini tentunya nanti konstruksinya itu yang harus dibangun terlebih dahulu," tuturnya.
Di luar penambahan kapasitas, DLH Jabar juga menjajaki kerja sama pengolahan 1.000 ton sampah melalui skema landfill mining. Metode ini diharapkan dapat mengurangi timbunan sampah lama yang telah berada di TPA Sarimukti.
Ai menilai pengolahan sampah melalui landfill mining menjadi salah satu upaya yang berpotensi memberikan pengurangan volume cukup signifikan, di tengah terbatasnya ruang penampungan.
"Kemudian kami juga tetap dalam penjajakan kerja sama untuk bisa mengolah 1.000 ton landfill mining. Dan saya kira itu yang paling signifikan yang bisa mengurangi volume sampah di Sarimukti selain tadi penambahan kapasitas yang memang sifatnya masih sangat terbatas," katanya.
Legok Nangka Ditargetkan Mulai Konstruksi 2027
Di tengah kondisi darurat Sarimukti, pemerintah juga menaruh harapan pada pembangunan fasilitas pengolahan sampah regional Legok Nangka sebagai solusi jangka panjang bagi persoalan sampah di Bandung Raya.
Ai menyatakan optimistis proyek tersebut dapat berjalan sesuai rencana. Saat ini, tahapan persiapan menuju financial close masih berlangsung, termasuk penyiapan lahan untuk jalur transmisi listrik dan air baku.
"Sekarang juga kita lagi pendahuluan ya untuk financial close. Kita sedang proses terus untuk penyiapan lahan transmisi, baik listrik maupun air baku, itu sekarang lagi kita berproses," ujarnya.
Ai berharap pembangunan fisik fasilitas pengolahan sampah Legok Nangka dapat dimulai pada 2027. "Insyaallah tahun depan itu betul-betul kita akan mulai konstruksi. Udah jalan kok, on track insyaallah," pungkasnya.























































